Makna Rumah Dalam Budaya Papua

psikologer.com

Oleh A. Ibrahim Peyon, Ph. D

1. Latar Belakang

Pada Jumat, 2 November 2012 saya telah ditelpon olehi Bupati Kabupaten Fak-Fak dan diminta untuk bertemu dengannya, dan saya pun menyangkupi permintaan tersebut. Sesuai rencana dilakukan pertemuan singkat di hotel Swiss Ball, bersama Bupati, Wakil Bupati dan kepala Bappeda Kabupaten Fak-Fak. Dalam kesempatan tersebut, diminta mempersiapkan sebuah makalah yang akan dipresentasikan pada hari ulang tahun Kabupaten Fak-Fak di bulan Nopember. Saya diminta mempersiapkan dua judul makalah, yakni: “Konstruksi Dan Makna Rumah Dalam Budaya Papua” dan “struktur sosial dalam masyarakat Papua”. Tetapi, sayangnya rencana tersebut tidak dapat dipenuhinya karena dalam waktu yang sama seorang saudara saya, Yoel Peyon SH, meninggal dunia di rumah sakit Dok II akibat penderitaan yang dialami pada kepalanya, akibat dipukul oleh polisi dalam demonstrasi Komite Nasional Papua Barat di Expo Waena pada tahun 2009 dalam rangka peluncuran Internasional Lawyers for West Papua (ILMWP, di Guyana. Meskipun saya tidak hadir secara fisik di sana, tetapi sebagai tanggung jawab moral atas permohonan Bupati dan Wakilnya, saya telah mengirim naskah ini untuk diseminarkan dalam acara tersebut.

Kedua judul makalah ini tidak terfokus pada suatu studi kasus tertentu tetapi sebagai sebuah perspektif general secara komparasi mengenai Papua. Dengan itu akan membuka cakrawala untuk melihat budaya suku-suku bangsa di Kabupaten Fak-Fak, terutama struktur sosial dan nilai dan konstruksi rumah adat di sana. Penghormatan ini, saya memandang sebagai suatu tanggung jawab kepada kami sebagai orang asli Papua terhadap manusia dan kebudayaan di tanah ini. Suatu tanggung jawab besar yang digerakkan oleh seorang pemimpin kepala daerah yang memiliki hati dan komitmen terhadap pengembangan nilai-nilai budaya orang Papua sebagai suatu Bangsa di atas Tanah leluhurnya sendiri. Kita, orang Papua adalah sebuah Bangsa dan bukan suku Bangsa yang selama ini didefinisikan oleh pihak lain terhadap diri kita. Kita sebagai Bangsa tentu memiliki nilai-nilai budaya itu sebagai dasar dan pijakan tersendiri tentang hidup dan dunia kami. Kebudayaan adalah identitas dan jatidiri sebuah Bangsa. Bila sebuah Bangsa itu dapat tereksis atau tidak sangat tergandung pada kebudayaan bangsa tersebut. Kami generasi ini adalah tongkat stafer dari generasi lalu bertahan atau tidaknya kebudayaan Papua di atas Tanah Leluhur Kami sendiri yang pada saat ini dan masa depan.

Ada banyak nilai budaya Bangsa Papua telah mengalami kehilangan atau bergeseran oleh berbagai pengaruh dari luar dan perubahan modernisasi dewasa ini. Kehilangan nilai-Nilai budaya tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yakni pengaruh Agama Kristen dan Islam, pengaruh migrasi yang tidak terkontrol dari luar dan pengaruh politik Pemerintah dan globalisasi. Berbagai pengaruh tersebut berdampak pada bergeseran, penghilangan dan bahkan memusnahkan nilai-nilai budaya kita bangsa Papua secara sengaja dan sistematis maupun tidak. Gereja hadir dengan misi peradaban dan kristenisasi telah memusnahkan sejumlah unsur kebudayaan bangsa Papua dengan alasan perhala. Tetapi, disisi lain mereka sedang menyebarkan budaya Eropa dan Timur Tengah kepada orang Papua di tanah ini dan malah terkesan dipaksakan untuk menerima itu. Sementara itu, pemerintah Indonesia datang dengan budaya nasional Indonesia dengan konsep monobudayaisme budaya. Budaya nasional yang kita belajar melalui buku-buku, agensi negara seperti pendidikan, birokrasi, pelatihan dan kursus. Semua nilai tersebut yang nota bene adalah budaya dari luar Papua. Disisi lain, kebudayaan Papua itu sendiri tidak mendapatkan tempat yang layak. Sering ditanggapi secara negatif dan dihubungkan dengan isu politik. Dalam posisi seperti ini kebudayaan Papua itu akan lebih sulit untuk berkembang di atas tanah leluhurnya sendiri. Dalam posisi seperti ini pantas kita harus bertanya “Apakah kehadiran gereja dan pemerintah di atas tanah ini sebagai penyelamat kebudayaan Papua atau sebaliknya? Apakah ada misi lain dibalik semua itu? Untuk menjawab pertanyaan seperti ini membutuhkan suatu refleksi yang dalam, pada diri orang Papua sebagai bangsa mengenai eksistensi atas dirinya sendiri. Kebudayaannya adalah eksistensi sebuah bangsa. Bila bangsa tersebut menjadi besar, kokoh dan berkembang dia harus bertumbuh diatas identitasnya sendiri. Identitas itu adalah sejarah dan kebudayaan itu. Kita tidak harus membayangkan bahwa kita ini hidup di ruang yang kosong, bergerak di atas udara. Tetapi kita berdiri disini, bertanam di atas tanah ini, bertumbuh dan berkembang dalam budaya kita ini, budaya Papua. 

Tidak sedikit pula unsur-unsur budaya kita yang telah hilang baik yang disebabkan oleh pengaruh dari luar sebagaimana disebutkan di atas muapun juga faktor perubahan dari dalam. Banyak juga hilang karena ganti generasi dan juga ketidak seriusan kita sendiri. Kita sendiri lemah untuk mempertahankan budaya kita sendiri, kurang dokumentasi, pelestarian, dan dianggap ketinggalan serta berbagai pandangan lainnya. Hal ini karena salah satu ciri masyarakat Papua adalah masyarakat segmenter dan struktur sosial yang longgar sehingga sulit dipertahankan budaya asli dan mudah terima unsur baru dari luar untuk dijadikan kebudayaan mereka. Atas ciri tersebut oleh Van Baal disebut orang Papua yang berciri masyarakat improvisator. Berarti mudah mengimprovisasi unsur-unsur dari luar dan diterima sebagai budayanya sendiri. Tetapi dalam waktu tertentu orang menghadapi masalah mereka kembali kepada budayanya sendiri. Ini adalah sebuah ciri yang dapat terhilangnya kebudayaan kita. Sebagian besar unsur-unsur yang berubah adalah kebudayaan material semisal, pakaian, perhiasan, peralatan ekonomi, peralatan dapur, peralatan ritual dan kepercayaan. Salah satu adalah kostruksi dan bentuk-bentuk rumah asli kita dan segenap makna dan nilainya. Karena dalam kebudayaan suku-suku bangsa di Papua rumah dapat dipahami tidak segetar tempat tinggal tetapi lebih dari itu. Rumah adalah dunia dimana manusia itu hidup dan mengaktualisasikan diri dalam seluruh kehidupannya. Rumah tidak dilihat dari sebuah bentuk bangunan yang tampak terlihat di depan mata kita melainkan makna dan nilai dibalik sebuah bangunan tersebut. Dalam makalah ini mencoba untuk mengkaji rumah dalam perspektif orang Papua secara umum dalam  dunianya sebagai suatu perspektif umum. Saya tidak membahas secara khusus rumah dalam pandangan suku-suku bangsa di wilayah Fak-Fak, mengingat keterbatasan data dan pengetahuan tidak cukup mengenai rumah di daerah ini.    

2. Filosofis dan Konsep Rumah

Rumah dalam kebudayaan-kebudayaan di Papua disebutkan dengan berbagai nama sesuai dengan istilah dalam bahasa suku bangsa yang bersangkutan. Rumah dalam masyarakat Mee di wilayah bagian barat dari Pegunungan Tengan disebut Yame Owa. Yame adalah laki-laki sedang Ome adalah rumah tinggal adalah rumah tinggal khusus kaum laki-laki yang merupakan pusat dari segala pengentalian hidup dalam dunia mereka. Rumah dalam masyarakat Hubula di Lembah Balim (Dani) disebut O. Istilah O berarti ruang, rumah, tempat tinggal dan kayu. Berdasarkan jenis rumah dapat dikelompok menjadi tiga yakni pilamo untuk rumah laki-laki, ebeai untuk rumah hinian laki-laki dan perempuan (keluarga inti). Pilamo dan ebeai disebut Oebeai. Istilah etimologis ebeai dari kata ebe berarti tubuh, inti, pokok dan pusat, sedang istilah ai tempat tinggal atau hunian. Hunila adalah dapur, dan dabula berarti kandang babi. Rumah orang Balim khususnya pilamo dapat terbagi lagi menjadi pilamo tempat hunian biasa, pilamo kanakela atau tempat sakral yang menimpan benda berhala disebut kanake, dan pilamo wimaila rumah perang. Gabungan dari rumah-rumah tersebut dalam suatu pemukiman disebut Osilimo atau silimo. Istilah O juga digunakan untuk sebuah kompleks perkampungan, sebuah wilayah konfederasi, sebuah wilayah aliansi dan  hingga sebuah wilayah geografis tertentu, misalnya Okurulu, Owalaragema dll.

Rumah dalam masyarakat Yali di pegunungan bagian timur dan selatan dari lembah Balim disebut O. Rumah atau O dalam budaya Yali terbagi menjadi dua yakni o yowi adalah rumah khusus untuk laki-laki, O homi adalah rumah khusus untuk tempat hunian perempuan dan anak. Oyowi dan ohomi disebut juga ebeibam. Ebe berarti tubuh, inti, pokok, dan pusat, sedang ibam adalah hunian, ada, dan berdiam. Kandang babi disebut owam labu, wam kanggok  atau wam ibam. Wam berarti babi dan ibam berarti rumah atau hunian, labu berari rumah panjang dan kanggok berarti dipagari keluar. Gabungan dari itu disebut osili atau opumbul. Rumah diluar pemukiman atau diluar osili/opumbuk disebut osabo, berarti pondok. Rumah dalam budaya Yali yang disebut oyowi itu terbagi menjadi tiga yakni ousai /kanangkela, odugialma dan osema. Usai adalah rumah pusat religis dan kepercayaan. Di rumah ini tersimpan benda-benda berhala yang berhubung dengan kehidupan manusia. Benda-benda tersebut berubah bagian tubuh dari sang pencipta itu. Odugialma berarti pusat perang, sedang sema berarti hunia biasa dan tempat hunia pemuda. Istilah O juga digunakan untuk sebuah kompleks pemukiman, gabungan kompleks pemukiman, suatu wilayah konfederasi, suatu wilayah aliansi, suatu wilayah geografis terkait dengan daerah berkebun, berburu hingga gunung-gunung jauh dari lokasi perkampungan. 

Suku bangsa Tobati dalam area budaya Tabi yang bermukim di Pesisir Teluk Yotefa bagi rumah mereka dikelompokkan menjadi tiga, yakni Sway adalah rumah yang hanya untuk rumah tinggal  dan Mau adalah rumah sakral yang digunakan khusus sebagai tempat pemujaan dan upacara adat semisal inisiasi. Selain itu, ada juga tempat untuk mencari atau menagkap ikan yang terletak di bawah rumah. Secara filosofis bagian utama dari rumah adat ini terdiri dari tiga bagian yaitu kaki, badan dan kepala. Rumah sebagai simbol organisme manusia ini berarti rumah orang Papua adalah bukan suatu benda yang mati dan tidak bergerak. Rumah adalah benda yang hidup dan bergerak.   

Dalam masyarakat Asmat di wilayah selatan, terdiri dari beberapa rumah. Salah satu yang terpenting adalah rumah pujang yang disebut Jew. Jew adalah suatu bangunan rumah panggung besar yang merupakan tempat tinggal dan hidup bagi anak-anak dan pemuda yang belum kawin. Jew adalah tempat membentuk seorang manusia Asmat untuk menjadi ASMAT. Asmat terdiri dari dua kata, yaitu As [=pohon] dan Amat [manusia]. Jadi, Asmat bermakna simbolik Manusia Pohon atau manusia yang berasal dari pohon/kayu. Kongkritnya seperti apa? Kita mesti lihat lebih dalam replika pohon itu dalam kenyataan hidup orang-orang Asmat. Manusia Asmat mempersonifikasikan dirinya dengan simbol pohon. Akar pohon sama dengan kaki Manusia Asmat, batang pohon sama dengan badan Manusia Asmat, dahan pohon sama dengan tangan Manusia Asmat, dan buah dari pohon sama dengan kepala Manusia Pohon. Hal yang paling nyata dan hidup sebagai pengolahan pikiran manusia Asmat adalah tampak jelas melalui pohon yang telah diolah menjadi Patung, Perisai, Tifa, Cembung, dan Senjata. Manusia Asmat memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah gambar nyata dari alam raya. Alam raya itu menyatu dalam diri manusia Asmat yang hidup sebagai pohon/kayu bergerak. Dalam gerakan hidupnya Manusia Asmat membangun hidup, relasi empat arah [manusia asmat, leluhur, alam raya, hasil kreasi tangannya]. Sejak manusia asmat perdana [Fumeripitj] sampai Manusia Asmat sekarang adalah manusia pohon hidup. Pohon yang berpikir, pohon yang merasakan sesuatu, pohon yang bergerak, pohon berelasi, pohon survive, dan pohon yang bereksistensi sungguh-sungguh sebagai manusia. Manusia yang sederajat dengan manusia universal. Disinilah fungsi dan makna Jew bagi asmat dan di rumah Jew ini menjadikan manusia Asmat menjadi manusia sejati atau ASMAT.

Dalam perspektif rumah bagi orang Papua adalah penjelmaan dari wujud yang tidak nyata, tubuh, inti dan pokon itu. Rumah dimengerti sebagai ruang dimana manusia dan inti atau pokok itu berdiam, berintekrasi. Inti, pokon atau tubuh yang tidak lain adalah sangat pencipta dalam mitologis itu. Dialah yang menciptakan manusia dan segala ada itu. Dia itu hadir secara abstrak dan menjelman dalam dunia empiris. Dia berdiam diri dan berinteraksi dengan manusia, alam raya, (tanah, gunung, sungai, laut, dan kehidupan sosial). Itulah filosifis nilai dan makna sebuah dalam kebudayaan orang Papua, bangsa Melanesia di tanah New Guinea ini.

3. Konstruksi Rumah

Bentuk dan konstruksi rumah dalam budaya-budaya di Papua berbeda satu dari yang lain. Perbedaan ini sangat terkait dengan unsur mistik dan kebudayaan yang dihayati, lingkungan ekologis dan interaksi sosial yang sudah terbangun dalam kebudayaan mereka. Bentuk dan konstruksi bangunan rumah dalam masyarakatan Papua di pegunungan berbeda dari masyarakat Papua di daerah rendah dan pesisir laut. Hal ini sangat berhubungan dengan kedekatan dengan hal-hal khusus, kondisi ekologis, prasarana dan sarana, iklim mikro, relasi sosial, mitologis, historis dan  kondisi topografi. Semuanya ini akan berpengaruh terhadap konstruksi rumah dan pemukiman penduduk. Di pegunungan tipe rumah pendek dan tertutup hal ini kondisi cuaca di wilayah itu dingin. Dengan kondisi rumah seperti itu orang dapat terlindung dari kedinginan. Sedang, di daerah yang temperature udara yang panas orang harus bangun rumah lebih tinggi dan tidak terlalu tertutup. Penduduk di daerah rawa dan pesisir misalnya orang Tomu dan Mogotira di Sebyar rumah harus dibangun diatas beberapa meter dari tanah untuk menghindar gelombang air, dll.  Disini rumah sebagai kebutuhan dasar manusia, perujudannya ternyata bervariasi menurut siapa yang menghuninya, kondisi ekologis dan lingkungan alam, temperature udara dan cuaca. Hal ini dikemukakan oleh Maslow bahwa sebagai suatu jenjang kebutuhan/hirarki kebutuhan berdasarkan tingkat intensitas dan arti penting dari kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan akan psikologis, kebutuhan akan perlindungan dan keamanan dan kebutuhan sosial.

Dalam membangun rumah pemilihan suatu lokasi bukan tanpa arti tetapi disini ada nilai historis, religius dan sosial tertentu. Orang dapat memastikan bahwa lokasi tersebut secara definitif merupakan wilayah atau kepemilikan kelompok klen dan komunitasnya. Pengambilan keputusan untuk menentukan lokasi, bentuk, ukuran, dan bahan, sesuai tradisi yang berlaku disitu. Arsitek rumah dirancang, dibangun dengan suatu metode pengujian alami, untuk menentukan lokasi, iklim, ukuran, bahan, dan bentuk secara arif dan bijaksana dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Sebelum ada pengaruh luar, semuanya dikerjakan dengan tenaga manusia (kapak batu atau pecahan batu) dll. Pada masyarakat Papua rumah tidak bisa membangun di sembarang tempat, seperti tempat berkebun, hutan lindung, rawan longsor, daerrah keramat.

Dilihat dari bentuknya, konstruksi dan arsitektur rumah orang-orang Papua berbeda. Rumah orang-orang Papua di Pegunungan berbeda dengan bentuk rumah di wilayah pesisir bila dilihat dari zona ekologisnya. Begutu juga rumah-rumah di wilayah selatan Papua berbeda dari rumah-rumah di pegunungan dan pantai utara. Bentuk rumah di pegunungan dapat dibedakan antara orang Mee, orang Lani, orang Hubula, Yali hingga penduduk Ngalum di bagian timur. Rumah-rumah di daerah pesisr juga berbeda baik di utara maupun di Selatan ini dan suku-suku bangsa di bagian kepala burung. Rumah-rumah masyarakat di daerah dataran rendah dan rawa-rawa diantara daerah pegunungan dan pesisir pantai berbeda benttuk dan tipenya. Semua berbeda satu dari yang lain. Tetapi memili satu ciri dan struktur mitologis yang hampir sama secara ke dalam. Rumah dalam masyarakat Korowai di atas pohon yang unik, misalnya memiliki tiga tipe rumah yakni rumah yang dibangun di atas pohon lebih dari 5 meter, rumah  di atas pohon-pohon di tinggi, dan rumah yang dibangun di atas tanah. Masing-masing rumah itu memiliki makna tertentu. Rumah di atas pohon yang tingginya 5 meter misalnya, dibangun karena sedang merencanakan perang, dalam situasi perang dan hendak merenakan untuk melakukan pembalasa terhadap musuh tertentu. Selain itu, untuk menghindar dari binatang buas.

Sistem struktur dan konstruksi rumah terdiri atas lima komponen: (1) rangka utama (tiang dan balok induk), (2) konstruksi lantai, (3) konstruksi dinding, (4) konstruksi atap, (5) konstruksi tangga. Semuanya dibuat dengan sistem tertentu yang berlaku dalam budaya itu. Tiang, balok induk, dan tangga dibuat dari jenis kayu terntu, sedang komponen konstruksi lainnya dibuat dari kayu lain. Semua bagian rumah tersebut memiliki fungsi dan nilai tersendiri. Ruangan misal sebagai ruang tidur, dapur dan ritual. Lebih dari segetar ruangan, bagian-bagian struktur bangunan itu memiliki fungsi dan nilai tertentu. Dalam masyarakat Tobati rumah mereka terdiri dari tiga bagian yaitu kaki, badan dan kepala. Masing-masing bagian itu memiliki makna tertentu. Dalam masyarakat Balim dan Yali di pegunungan setiap bagian dari struktur bangunan tersebut memiliki arti tersendiri. Setiap tiang dari rumah itu adalah simbol dari jumlah klen yang ada di dalam kampung itu. Tiang penjangga bagian tengah adalah simbol pencipta dan simbol klen tertua. Dasar dari setiap tiang itu memiliki makna tertentu dan meletakan benda tertentu. Setiap ruangan dalam rumah itu juga terbagi sesuai jumlah klen dan fungsi dari masing-masing klen itu. Klen yang dianggap mama ditempati di bagian lain dan klen dari panglima perang dibagian tertentu. Ada klen untuk kesuburan dan ada klen untuk kedamaian kampung. Semua mempunyai tempat sendiri-sendiri dalam rumah itu. Ada bagian untuk simbol religius dan ada bagian untuk simbol prafon. Bagian yang prafon inilah tamu dapat mengizinkan duduk. Bagian dasar rumah adalah simbol kesuburan dan bagian atas adalah simbol politik dan sosial. Bentuk atau bodih rumah dibagian tengah adalah simbol kebersamaan hidup dan relasi harmonis. Demikianlah oposisi-oposisi itu telah terbangun dalam budaya. Semuanya adalah terbagi dan memiliki arti dan makna. Rumah adalah simbol dari sebuah kehidupan dalam komunitas dan akar dari sebuah kehidupan. 

Tinjauan di sini, lebih mengarah pada perspektif antropologis yang secara garis besar terdapat dua aliran yang berpolarisasi dalam teori kebudayaan yaitu aliran kognitivisme dan behaviorisme serta di dalamnya terdapat beberapa tinjauan semacam simbolisme, fungsionalisme dan strukturalisme. Di sini rumah adalah bagian yang utuh dari pemukiman, eksistensi dan seluruh kehidupan manusia itu. Rumah bukan hasil fisik sekali jadi semata, melainkan merupakan suatu proses yang terus berkembang dan terkait dengan mobilitas sosial ekonomi, religis, lingungan alam, gunung dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Seluruhnya dapat terintegrasi dan menjadi utuh. Unusr-unsur lingkungan alam, semisal tanah, gunung, batu, sungai laut, hewan dan tumbuhan adalah bukan dua dunia yang terpisah dan terlepas dari kehidupan manusia. Tetapi merupakan kesatuan yang utuh, integratif, dan terelasi secara harmonis dan kontinuitas.

4. Nilai dan Makna Rumah

Sebagaimana dibahas di atas rumah asli masyarakat Papua memiliki makna dan nilai yang lebih dalam. Rumah dalam tradisi Papua tidak hanya dipandang sebagai suatu bangunan yang kosong dan tanpa makna yang hanya dilihat sebagai tempat penghuni semata. Melainkan lebih dari itu, rumah dimengerti sebagai makna tempat tinggal, makna membangunan relasi sosial dan kebersamaan, makna kosmologis dan religis, makna ekonomi, makna sosial dan politik, dan keseimbangan lingkungan hidup dan alam raya.     

Rumah adalah tubuh dan tubuh itu berdiam. Bagian tubuh dari sang pencipta itu. Dia yang pernah ada, hidup sekarang ini dan aka ada di masa depan. Dia adalah inti, pokok, pusat dan dasar. Bagian tubuh dari inti atau sang pencipta itu tersimpan dalam rumah-rumah ini. Melalui itu dia hadir disini dan berdiam di rumah ini. Bagian tubuh dari inti, dasar, pokok itu tersimpan disini dalam bentuk kanake (orang Hubula), kanangge/usasum (orangYali), Korwar (orang Biak), ukiran Fumeripitj (orang Asmat), ular, buaya dan cecak (orang Sentani), dll. Dia adalah tokoh mitologi yang diyakini itu. Tokoh atau inti itu disebut dengan berbagai sebutan. Begitulah tokoh mitos itu  mengangkat manusia dalam kelompok-kelompok komunitas dengan kehadirannya secara simbolik dihayati sebagai pusat kesatuan hidup. Bagian tubuh yang telah diambil dijadikan sebagai benda berhala dan dibuatlah sebuah rumah dan disampan disana sebagai sumber inspirasi, sumber kekuatan, sumber kesuburan. Dihayati itu sebagai sebuah spirit hindup individu, klen, konfederasi, aliansi dan suku bangsa itu. Dia selalu hadir dalam hidup masyarakat dalam bentuk dan manifestasinya dalam setiap klen, konfederasi dan suku bangsa. Jadi, rumah adalah bukanlah tanpa arti dan makna. Rumah memiliki arti dan makna yang mendalam dan mendasar bagi suatu suku bangsa di tanah Papua ini. Dalam rumah tertentu biasanya terdapat mahluk tertentu sebagai penjelmaan inti tersebut misal berupa jenis burung tertentu, jenis ikan tertentu, jenis ular tertentu.  Dalam masyarakat Sentani, rumah seorang ondofolo atau rumah adat dapat dilukis dengan jenis hewan tertentu misalnya ular, buaya, cecak, ikan dan sebagainnya. Ular dalam mitos Sentani melukiskan sebagai leluhu ondofolo Ohee dan komunitasnya yang dibawa dari bagian timur, dari Sepik, Papua New Guinea ke daerah di sekitar Danau Sentani. Cicak dalam Ondofolo bertugas untuk menjaga seorang Ondofolo dan membawa berita kepada Ondofolo atau memusnahkan pihak lawan sesuai perintah Ondofolo. Simbol Buaya melukiskan kepahlawan sang ondofolo dan perang untuk membela komunitasnya. Semua ini hidup dalam rumah Ondofolo dan tampil dalam lukisan-lukisan di rumah Ondofolo. Dalam manasyarakat Asmat, manusia pertama Fumeripitj itu dihadirkan dalam bentuk ukiran kayu. Demikian juga roh atau arwa sang leluhur atau kerabat yang sudah mati dalam bentuk itu. Benda ukiran itu bukanlah benda mati melainkan ia adalah benda yang hidup, bergerak dan berdiam bersama-sama dengan manusia. Mereka ini di dalam rumah yang disebut Jew itu.

Bagi orang Tobati rumah itu adalah bukan benda mati tetapi dia benda hidup. Rumah disimbolkan sebagai organisme yang hidup dan bergerak. Rumah itu dapat terbagi menjadi tiga bagian yakni kaki, tubuh dan kepala. Dalam tubuh (rumah) yang hidup inilah manusia Tobati dibentuk melalui ritual atau inisiasi. Ritual merupakan perwujudan atau simbol dari adat yang berlaku di dalam suatu masyarakat. Sedangkan adat itu sendiri dapat hadir karena tradisi yang telah berlangsung dalam masyarakat tersebut. Berbicara mengenai pemukiman tradisional tentunya selalu dikaitkan dengan makna yang lebih dalam dibalik bentukan yang terjadi. Dari bentuk atap ini dapat menjadi gambaran dari bentuk utuh bangunan yang terdiri dari kaki, badan dan kepala, yang secara keseluruhan berarti menggambarkan hubungan harmonis antara alam raya sebagai makrokosmos dengan pencipta, juga alam raya dengan manusia.

Rumah dalam budaya Papua secara kosmologis dalah tempat berdiamnya manusia, sang pencipta, roh para leluhur, hewan, tumbuhan, batu gunung, sungai, benda angkasa dan sebagainya. Dalam budaya masyarakat tertentu rumah sebagai simbol matahari, rumah simbol bulan, rumah simbol laut, rumah simbol gunung dan sebagainya. Jadi, rumah adalah tubuh manusia itu sendiri dan makluk lain dibalik itu. Rumah adalah dunia sakral sekaligus dunia prafon. Setiap rumah merupakan pengembangan dari satu rumah keramat yang merupakan induk. Rumah induk ini memiliki nama sendiri. Nama-nama rumah tersebut diambil dari benda tertentu semisal nama gunung, nama pohon, nama hewan, dll. Nama-nama itu memiliki makna tertentu yang mendalam dalam kebudayaan mereka.    

Dalam kebudayaan Papua, pendirian rumah secara historis muncul dalam berbagai mitologis. Rumah-rumah tersebut dirikan oleh tokoh mitologis tertentu, melalui peristiwa tertentu dan sebagainya. Dalam berbagai rumah-rumah mula-mulai dijadikan sebagai rumah induk dan kemudian didirkan rumah-rumah lain sesuai perkembangan penduduk. Namun hubungan dengan rumah Induk tersebut tetap terpelihara. Dalam berbagai aksi sosial penduduk yang mendiami rumah induk tertentu dengan rumah-rumah cabangannya terbentuk sebuah ikatan sosial yang kuat sebagai suatu kelompok asosiasi. Mereka ini bergerak dalam berbagai bidang misal politik, ekonomi, sosial dan kekerabatan.

Pada suatu rumah dapat dihuni oleh kelompok sosial tertentu, misalnya sebuah klen, gabungan klen atau kelompok-kelompok lain yang lebih luas. Kelompok-kelompok persekutuan ini dalam hal-hal tertentu mampu bertindak sebagai sebuah kelompok persekutuan politik, misalnya mereka dapat berperang dengan kelompok persekutuan lain, membentuk kelompok ekonomi sendiri, membangun rumah sendiri, mengadakan upacara sendiri dalam kelompok persekutuan rumah ini. Pada masa sekarang kelompok persekutuan rumah adalah suatu kelompok inti dalam berpolitikan masa kini semisal dalam pemilihan kepala daerah, anggota parlemen, dan sebagainya.

Dalam situasi-situasi tertentu penduduk yang mendiami rumah tersebut membentuk sebuah kelompok persekutuan dengan penduduk dari rumah-rumah lain yang merupakan pengembangan dari penduduk rumah induk tersebut. Kelompok-kelompok ini kemudian membentuk sebuah persekutuan sosial yang lebih besar pada akhirnya terbentuk sebuah kelompok konfederasi dan kelompok aliansi. Mereka secara politik bersama-sama mengadakan perang, perdamaian, ritual, buka kebun, buka sasi di laut dan mengatasi krisis tertentu dalam masyarakat. Jadi, kelompok sosial baik kelompok yang berbasis pada ikatan klen atau marga, gabungan marga, kelompok konfederasi, kelompok aliansi hingga pada tingkat suku bangsa. Semua kelompok masyarakat tersebut terbentuk dan dimulai dari satu titik tertentu. Titik tersebut terletak pada rumah dan disinilah akar-akar komunitas itu berdiam.

5. Penutup

Dengan demikian rumah dalam budaya Papua memiliki makna khusus dan mencakup seluruh kehidupan manusia di tanah Papua ini. Rumah merupakan pusat dari segenap unsur dalam kehidupan manusia dan alam raya. Adalah tempat dimana manusia dan mahluk roh dan sang pencipta berdiam. Rumah adalah sekaligus sebagai dunia sakral dan dunia prafon. Di dalam rumah ini manusia dapat dibentuk menjadi manusia yang sejati. Dalam suku bangsa tertentu seperti orang Mee, orang Amungme, orang Asmat dll manusia dapat menjadi MANUSIA SEJATI, dia harus melewati proses tertentu. Proses tersebut harus dapat melewati di dalam RUMAH. Manusia belum melewati proses tersebut dia belum bisa dikatakan sebagai “MANUSIA SEMPURNA” atau “MANUSIA SEJATI”.  

Namun demikian yang menjadi pekerjaan rumah (PR) buat kita semua pada hari ini adalah mengapa bangunan rumah tradisional semakin hari semakin punah? Jika demikian siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan? Bukankah rumah tradisional sebagai jati diri dan identitas orang Papua? Tindakan apakah yang harus diambil oleh kita sebagai orang Papua?